Jakarta, 4 November 2026 – Program Desa Energi Berdikari (DEB) yang dikembangkan PT Pertamina (Persero) menunjukkan hasil dalam mendorong pemanfaatan energi bersih sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat pedesaan. Perubahan tersebut terlihat di Desa Tumpak, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan Dusun Bondan, Cilacap, Jawa Tengah, yang kini merasakan manfaat dari pengembangan energi terbarukan serta pemberdayaan potensi lokal. Di Desa Tumpak, kawasan hutan yang sebelumnya mengalami kerusakan berhasil dihijaukan kembali dan dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat. Sementara itu, warga Dusun Bondan yang dahulu menghadapi keterbatasan listrik dan air bersih kini memperoleh akses energi untuk kebutuhan rumah tangga maupun kegiatan produktif. Pertamina menyatakan program tersebut telah menjangkau 310 desa dengan nilai tambah ekonomi mencapai lebih dari Rp26 miliar setiap tahun. Melalui pengembangan yang menggabungkan energi ramah lingkungan dan pemberdayaan ekonomi, perusahaan berupaya menjadikan transisi energi sebagai bagian dari peningkatan kesejahteraan masyarakat. CNNindonesia+1
Perubahan di Desa Tumpak menjadi salah satu contoh keberhasilan masyarakat dalam menghubungkan pelestarian lingkungan dengan pengembangan sumber penghasilan. Burhanudin bersama warga setempat memulai upaya pemulihan kawasan hutan lindung yang sempat mengalami kerusakan pada 2018. Melalui kegiatan penghijauan secara berkelanjutan, sekitar 30 ribu pohon kini tumbuh di kawasan tersebut dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Keberadaan kawasan hijau kemudian membuka peluang pengembangan ekowisata yang mampu menarik sekitar 800 pengunjung setiap tahun. Selain sektor pariwisata, masyarakat juga mengembangkan peternakan serta pengolahan produk turunan kelapa seperti cocopeat, minyak kelapa murni atau virgin coconut oil (VCO), dan briket. Berbagai kegiatan ekonomi tersebut melibatkan sekitar 60 tenaga kerja dengan perputaran ekonomi mencapai Rp60 juta per tahun. Aktivitas produktif warga turut didukung penggunaan panel surya berkapasitas 6,6 kilowatt-peak yang membantu menyediakan energi untuk kegiatan masyarakat.
Burhanudin menjelaskan bahwa upaya penghijauan memberikan manfaat yang lebih luas daripada sekadar memperbaiki kondisi lingkungan. Bertambahnya jumlah pohon di kawasan tersebut turut menciptakan peluang ekonomi baru yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara berkelanjutan. Pengalaman tersebut disampaikannya dalam kegiatan DETalk bertema Desa Berdaya, Energi Terjaga: Cetak Biru Transisi Energi Masa Depan yang diselenggarakan secara daring pada Senin, 2 November 2026. Menurutnya, pelestarian lingkungan dan pertumbuhan ekonomi dapat berjalan bersama apabila masyarakat memiliki kesempatan mengembangkan potensi wilayahnya. Pengembangan ekowisata serta produk berbahan kelapa menjadi bukti bahwa sumber daya lokal dapat menghasilkan nilai tambah melalui pengelolaan yang tepat. Dukungan energi terbarukan juga membantu memperkuat aktivitas usaha tanpa sepenuhnya bergantung pada sumber energi konvensional. Keberhasilan tersebut memperlihatkan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan program setelah fasilitas dan pendampingan diberikan.
Kisah perubahan serupa terjadi di Dusun Bondan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, yang sebelumnya menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan dasar. Hingga 2017, wilayah tersebut belum memperoleh aliran listrik sehingga aktivitas masyarakat berlangsung dengan berbagai keterbatasan. Untuk mendapatkan air bersih, warga bahkan harus menempuh perjalanan sekitar tujuh kilometer menggunakan perahu. Kondisi mulai berubah setelah hadirnya pembangkit listrik tenaga hibrida yang menyediakan energi bagi kebutuhan rumah tangga dan kegiatan ekonomi. Listrik yang tersedia tidak hanya digunakan untuk penerangan, tetapi juga mengoperasikan aerator tambak dan teknologi desalinasi yang mengolah air payau menjadi air bersih. Kehadiran fasilitas tersebut membantu meningkatkan kenyamanan hidup sekaligus membuka kesempatan bagi warga untuk mengembangkan kegiatan produktif. Perubahan ini menunjukkan bahwa akses energi memiliki hubungan erat dengan pemenuhan kebutuhan dasar dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah terpencil.
Penggerak masyarakat Dusun Bondan, Mohammad Jamaludin, mengungkapkan bahwa kehadiran energi terbarukan telah memberikan perubahan penting bagi kehidupan warga. Selain memperoleh penerangan dan akses air bersih, masyarakat kini dapat mengembangkan usaha yang berkaitan dengan potensi perikanan setempat. Para perempuan di dusun tersebut mendapatkan pelatihan untuk mengolah hasil tambak menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Pengelolaan fasilitas pembangkit juga dilakukan dengan melibatkan koperasi desa melalui iuran sebesar Rp25 ribu per bulan untuk setiap keluarga. Mekanisme tersebut bertujuan mendukung keberlanjutan operasional fasilitas energi yang telah dibangun. Dusun Bondan bahkan berkembang menjadi tempat pembelajaran bagi mahasiswa Politeknik Negeri Cilacap yang ingin mempelajari penerapan teknologi energi dan pemberdayaan masyarakat. Jamaludin yang pernah menerima penghargaan Local Hero Award TJSL Pertamina Group 2023 menilai program tersebut telah memberikan manfaat nyata bagi kehidupan warga di wilayahnya.
Vice President CSR and SMEPP Management Pertamina, Rudi Ariffianto, menjelaskan bahwa program Desa Energi Berdikari telah dikembangkan sejak 2018 melalui pendekatan yang disesuaikan dengan potensi setiap wilayah. Program tersebut mencakup tiga kategori utama, yakni Ketahanan Pangan, Pesisir Modern, dan Wisata Energi. Pengembangannya dilakukan secara bertahap melalui kategori DEB Putih, Hijau, Biru, hingga Siap Mandiri untuk memperkuat kemampuan masyarakat mengelola kegiatan secara berkelanjutan. Hingga November 2026, Pertamina telah mengembangkan 310 Desa Energi Berdikari, sementara 24 desa lainnya masih berada dalam proses pengembangan. Sekitar 60 persen lokasi program berada di luar Pulau Jawa sebagai bagian dari upaya memperluas pemerataan manfaat energi terbarukan. Pertamina menargetkan jumlah desa binaan mencapai 334 desa pada akhir 2026 dan meningkat menjadi 732 desa pada 2030. Target tersebut diharapkan dapat memperluas akses energi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat berdasarkan sumber daya lokal yang tersedia.
Dampak program Desa Energi Berdikari juga terlihat dari berbagai capaian pada sektor energi, pangan, perikanan, dan pariwisata. Pertamina melaporkan pemanfaatan teknologi tenaga surya, biogas, mikrohidro, biodiesel, serta pembangkit hibrida yang menghasilkan kapasitas listrik sekitar 1,595 juta watt-peak dan produksi biogas sekitar 973 ribu meter kubik. Pada sektor ketahanan pangan, program tersebut mendukung produksi lebih dari 21 ribu ton beras dan sekitar lima ribu ton komoditas nonberas dari lahan seluas kurang lebih dua ribu hektare. Sementara itu, pengembangan kawasan pesisir turut berkontribusi terhadap produksi ikan tangkap sekitar 390 ton per tahun. Aktivitas ekonomi masyarakat yang terbentuk dari berbagai program tersebut menghasilkan nilai tambah lebih dari Rp26 miliar per tahun dengan penerima manfaat mencapai lebih dari 283 ribu orang. Beberapa desa juga mencatat perkembangan ekonomi dari sektor wisata, termasuk DEB Uma Palak di Denpasar dengan nilai ekonomi sekitar Rp540 juta per tahun dan Kampung Kepiting di Cilacap yang mencapai Rp601 juta per tahun. Capaian tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan energi terbarukan dapat memberikan dampak ekonomi yang beragam apabila terintegrasi dengan kebutuhan dan karakteristik wilayah.
Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, program Desa Energi Berdikari juga diarahkan untuk memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengelola teknologi ramah lingkungan secara mandiri. Pertamina mencatat sebanyak 223 penggerak masyarakat atau local hero telah memperoleh sertifikasi sebagai operator energi baru terbarukan. Dari sisi lingkungan, program tersebut dilaporkan berkontribusi terhadap pengurangan emisi lebih dari 1,1 juta ton karbon dioksida ekuivalen serta pengelolaan sekitar 145 ribu ton sampah setiap tahun. Pengembangan teknologi turut didukung kerja sama dengan 13 perguruan tinggi yang menghasilkan penerapan 40 jenis teknologi tepat guna di 134 desa. Di Desa Keliki, Ubud, Bali, pemanfaatan energi untuk kegiatan pertanian membantu meningkatkan frekuensi panen padi dari sekali menjadi hingga tiga kali setahun, dengan produktivitas yang dilaporkan meningkat menjadi tujuh ton per hektare. Sementara itu, fasilitas energi di DEB Watumite, Ende, membantu menjaga ketersediaan listrik dan internet ketika masyarakat menghadapi situasi bencana. Melalui berbagai pencapaian tersebut, Pertamina berupaya memperlihatkan bahwa transisi energi dapat berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas, perlindungan lingkungan, dan penguatan kemandirian masyarakat desa.