Jakarta, 25 Mei 2026 – Detail “harga” atau syarat besar yang harus dipenuhi Iran dalam kesepakatan dengan United States demi membuka kembali Selat Hormuz mulai terungkap ke publik. Berdasarkan berbagai laporan media internasional, kesepakatan tersebut tidak hanya menyangkut pembukaan jalur pelayaran strategis dunia, tetapi juga mencakup kompromi besar terkait program nuklir Iran, pencabutan sanksi, dan keamanan kawasan Timur Tengah. Salah satu poin paling penting adalah komitmen Iran untuk memusnahkan atau menangguhkan penggunaan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi sebagai bagian dari syarat utama kesepakatan.
Dalam draf nota kesepahaman yang dilaporkan sedang difinalisasi, Iran disebut wajib membersihkan ranjau laut di Selat Hormuz dan menjamin kapal-kapal internasional dapat melintas tanpa hambatan maupun biaya tambahan selama masa gencatan senjata 60 hari. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat akan melonggarkan blokade pelabuhan Iran dan memberikan pengecualian sanksi sementara agar Teheran kembali dapat menjual minyak mentah ke pasar global. Kesepakatan ini dipandang sangat penting karena Selat Hormuz merupakan jalur distribusi sekitar seperempat perdagangan minyak laut dunia.
Selain isu energi dan pelayaran, kesepakatan juga dikabarkan mencakup tuntutan penghentian pengembangan senjata nuklir Iran dan pembukaan ruang negosiasi baru terkait stabilitas kawasan. Presiden AS Donald Trump bahkan disebut menekan negosiator agar Iran memberikan jaminan konkret terkait aktivitas nuklir sebagai syarat pembukaan penuh Selat Hormuz. Namun sejumlah laporan menyebut Iran masih berhati-hati dan belum ingin buru-buru menandatangani kesepakatan permanen sebelum seluruh detail disepakati.
Pasar global merespons positif perkembangan ini karena pembukaan Selat Hormuz berpotensi menurunkan tekanan harga minyak dunia dan memulihkan rantai pasok energi internasional. Dalam beberapa bulan terakhir, konflik di kawasan tersebut menyebabkan biaya pengiriman minyak melonjak tajam dan memicu ketidakpastian ekonomi global. Banyak negara importir energi, termasuk di Asia dan Eropa, sangat berkepentingan agar jalur strategis tersebut kembali normal.
Meski negosiasi disebut hampir rampung, sejumlah pejabat dan pengamat internasional mengingatkan bahwa kesepakatan masih bisa gagal sebelum resmi ditandatangani. Hubungan AS dan Iran selama ini dikenal sangat rapuh dengan sejarah panjang konflik politik, ekonomi, dan militer. Karena itu, publik internasional kini menunggu apakah kedua negara benar-benar mampu mencapai kompromi final demi mengakhiri krisis Selat Hormuz yang sempat mengguncang pasar energi dunia.