Jakarta, 21 Oktober 2026 – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di sejumlah wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menjadi perhatian serius pemerintah dan tenaga kesehatan. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga 18 Oktober 2026, jumlah kumulatif kasus ISPA telah mencapai 306.309 kasus. Dari jumlah tersebut, puluhan ribu kasus dialami anak-anak dan balita yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pernapasan. Kondisi ini menunjukkan besarnya tantangan kesehatan masyarakat di tengah paparan asap kebakaran yang terjadi di berbagai daerah. Para ahli mengingatkan bahwa perlindungan terhadap kelompok rentan perlu menjadi prioritas untuk mencegah komplikasi yang lebih berat.
Kementerian Kesehatan mencatat kelompok anak usia enam hingga sembilan tahun menyumbang 77.022 kasus ISPA, sedangkan balita berusia nol hingga lima tahun mencapai 69.015 kasus. Sementara itu, kelompok lanjut usia di atas 60 tahun tercatat mengalami 49.680 kasus. Penambahan kasus harian pada 17 Oktober mencapai 2.778 kasus, sedikit menurun dibandingkan 2.808 kasus pada hari sebelumnya. Meski terdapat penurunan jumlah kasus baru secara harian, angka kumulatif yang tinggi menunjukkan bahwa gangguan kesehatan pernapasan masih menjadi persoalan besar. Pemerintah terus melakukan pemantauan untuk memastikan pelayanan kesehatan tersedia bagi masyarakat di wilayah yang mengalami penurunan kualitas udara.
Dokter spesialis paru dari Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Profesor Erlina Burhan, mengingatkan bahwa ISPA tidak boleh dianggap sebagai gangguan kesehatan ringan dalam semua kondisi. Penyakit ini dapat menyerang saluran pernapasan bagian atas maupun bawah dan umumnya disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri. Paparan asap karhutla dapat mengiritasi saluran napas, memperburuk gejala, serta meningkatkan kerentanan terhadap gangguan pernapasan tertentu. Menurutnya, terdapat enam kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus karena berisiko mengalami kondisi lebih berat. Faktor usia, daya tahan tubuh, serta penyakit yang telah dimiliki sebelumnya menjadi beberapa hal yang memengaruhi tingkat kerentanan tersebut.
Kelompok pertama yang membutuhkan perlindungan ekstra adalah bayi dan balita karena sistem kekebalan tubuh mereka masih berkembang. Saluran pernapasan yang relatif kecil membuat pembengkakan atau penumpukan lendir lebih mudah menyebabkan kesulitan bernapas. Kelompok kedua adalah lanjut usia yang mengalami penurunan fungsi kekebalan tubuh seiring bertambahnya umur. Pada kelompok ini, infeksi pernapasan dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, terutama apabila disertai penyakit kronis. Anak-anak dan lansia juga perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Orang tua serta anggota keluarga diharapkan memperhatikan gejala batuk berkepanjangan, demam, napas cepat, atau sesak yang memerlukan pemeriksaan medis.
Kelompok ketiga adalah ibu hamil yang mengalami berbagai perubahan fisiologis selama masa kehamilan. Perubahan sistem kekebalan tubuh dan meningkatnya kebutuhan oksigen dapat membuat gangguan pernapasan lebih berisiko bagi ibu maupun janin. Kelompok keempat adalah perokok aktif dan perokok pasif yang terus-menerus terpapar zat berbahaya dari asap rokok. Paparan tersebut dapat merusak silia atau rambut halus di saluran pernapasan yang berfungsi membantu membersihkan partikel dan mikroorganisme. Akibatnya, kemampuan saluran pernapasan dalam mempertahankan diri terhadap infeksi dapat menurun. Risiko juga dialami anggota keluarga yang tidak merokok tetapi sering menghirup asap rokok di lingkungan rumah.
Kelompok kelima mencakup penderita penyakit kronis, seperti asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), diabetes, dan penyakit jantung. Pada penderita asma dan PPOK, infeksi pernapasan dapat memicu peradangan serta memperburuk gangguan pernapasan yang sudah ada. Sementara itu, penderita diabetes dapat mengalami peningkatan risiko infeksi ketika kadar gula darah tidak terkendali. Penderita penyakit jantung juga perlu waspada karena gangguan pernapasan berat dapat meningkatkan beban kerja jantung. Kelompok keenam adalah pekerja luar ruangan dan masyarakat yang sering terpapar polusi udara dalam waktu lama. Mereka berisiko menghirup partikel pencemar lebih banyak, terutama ketika aktivitas sehari-hari berlangsung di tengah kondisi udara yang tidak sehat.
Dari sisi persebaran wilayah, Sumatera Selatan mencatat jumlah kasus ISPA tertinggi dengan 82.001 kasus, disusul Kalimantan Selatan sebanyak 78.486 kasus. Kalimantan Barat melaporkan 55.585 kasus, sementara Riau mencatat 36.272 kasus. Selanjutnya, Kalimantan Timur mencatat 27.441 kasus dan Kalimantan Tengah sebanyak 26.524 kasus. Selain ISPA, pemerintah juga memantau berbagai gangguan kesehatan lain, termasuk pneumonia, penyakit kulit, dan iritasi mata. Meski kasus-kasus tersebut tercatat di wilayah terdampak karhutla, setiap diagnosis ISPA tidak otomatis dapat dipastikan disebabkan langsung oleh asap tanpa pemeriksaan lebih lanjut. Data tersebut tetap menjadi dasar penting untuk menentukan kebutuhan pelayanan kesehatan dan perlindungan masyarakat.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan terus memperkuat penanganan kesehatan di daerah yang terdampak kabut asap. Langkah yang dilakukan mencakup distribusi masker, obat-obatan, serta peralatan pendukung pernapasan seperti konsentrator oksigen. Fasilitas puskesmas dan rumah sakit juga disiagakan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat yang mengalami keluhan kesehatan. Penyediaan rumah oksigen menjadi salah satu bentuk dukungan bagi warga yang membutuhkan tempat dengan udara lebih bersih dan bantuan pernapasan sesuai penilaian tenaga medis. Di samping itu, pemantauan penyakit dilakukan secara berkelanjutan untuk mendeteksi perubahan jumlah kasus dan kebutuhan penanganan. Pemerintah daerah diharapkan memastikan kelompok rentan memperoleh akses pelayanan kesehatan secara cepat.
Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara memburuk dan menggunakan masker respirator yang sesuai, seperti N95, apabila harus berada di lingkungan berasap. Menjaga kebersihan tangan, memenuhi kebutuhan gizi, beristirahat cukup, serta menghindari paparan asap rokok juga menjadi bagian dari langkah pencegahan. Penggunaan penyaring udara dan pembatasan masuknya asap ke dalam ruangan dapat membantu mengurangi paparan polutan. Apabila muncul gejala berupa sesak napas, napas cepat, nyeri dada, atau kondisi tubuh yang semakin melemah, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan. Dengan jumlah kasus ISPA yang telah mencapai 306.309, perlindungan terhadap enam kelompok rentan menjadi kebutuhan mendesak di wilayah terdampak karhutla. Upaya pencegahan kebakaran, perbaikan kualitas udara, dan kesiapan fasilitas kesehatan harus berjalan bersamaan untuk menekan risiko gangguan kesehatan yang lebih luas.