Jakarta, 23 Agustus 2026 – Gelar sarjana belum otomatis menjamin seseorang langsung mendapatkan pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan tinggi. Data terbaru yang diolah Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia atau LPEM FEB UI dari Survei Angkatan Kerja Nasional Agustus 2025 menunjukkan sejumlah bidang studi memiliki porsi cukup besar di antara pengangguran berpendidikan minimal S1 di Indonesia. Bidang Manajemen menempati posisi pertama dengan kontribusi 10,3 persen, disusul Hukum sebesar 9 persen dan Ekonomi 8,7 persen. Selanjutnya terdapat bidang Pendidikan dengan porsi 7,1 persen serta Akuntansi sebesar 5,1 persen. Lima bidang studi tersebut secara bersama-sama mencakup sekitar 40 persen dari seluruh pengangguran berpendidikan minimal S1.
Temuan tersebut tercantum dalam Labor Market Brief Volume 7 berjudul “Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap?” yang diterbitkan LPEM FEB UI pada Juli 2026. Berdasarkan pengolahan data Sakernas Agustus 2025, terdapat sekitar 904.440 orang pengangguran dengan pendidikan tinggi atau minimal lulusan S1. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 5,39 persen dari total angkatan kerja berpendidikan tinggi pada periode tersebut. Besarnya jumlah lulusan perguruan tinggi yang belum bekerja menjadi salah satu gambaran mengenai tantangan penyerapan tenaga kerja terdidik di Indonesia. Persoalan tersebut menjadi semakin relevan ketika jumlah lulusan perguruan tinggi terus bertambah sementara kebutuhan tenaga kerja pada bidang tertentu tidak selalu meningkat dengan kecepatan yang sama.
Manajemen menjadi bidang studi dengan porsi terbesar di antara pengangguran lulusan minimal S1, yakni 10,3 persen. Besarnya angka tersebut tidak serta-merta berarti lulusan Manajemen memiliki tingkat pengangguran paling tinggi atau prospek kerja paling buruk. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah jumlah lulusan Manajemen yang memang sangat besar karena program studi tersebut tersedia di banyak perguruan tinggi dan memiliki peminat yang tinggi. Lulusan Manajemen juga harus bersaing dengan lulusan dari bidang lain ketika memasuki berbagai posisi pekerjaan seperti pemasaran, administrasi, sumber daya manusia, keuangan, maupun pengelolaan bisnis.
Bidang Hukum berada di posisi kedua dengan porsi 9 persen dari pengangguran berpendidikan minimal S1, sedangkan Ekonomi berada di urutan berikutnya dengan 8,7 persen. Lulusan Hukum sebenarnya memiliki sejumlah jalur karier yang cukup beragam, mulai dari profesi hukum, perusahaan swasta, lembaga pemerintahan hingga sektor jasa. Namun, jumlah lulusan yang besar membuat persaingan mendapatkan pekerjaan menjadi semakin ketat, terlebih untuk posisi yang membutuhkan kualifikasi atau sertifikasi tertentu. Sementara itu, lulusan Ekonomi memiliki fleksibilitas untuk bekerja di berbagai sektor, tetapi harus bersaing dengan lulusan Manajemen, Bisnis, Keuangan, Statistik, maupun bidang lain yang memiliki kompetensi beririsan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa luasnya pilihan karier tidak selalu berarti proses masuk ke dunia kerja menjadi lebih mudah.
Bidang Pendidikan menempati posisi keempat dengan kontribusi 7,1 persen, kemudian Akuntansi berada di posisi kelima dengan 5,1 persen. Untuk lulusan Pendidikan, penyerapan tenaga kerja sangat dipengaruhi oleh kebutuhan guru, bidang keahlian, lokasi sekolah, serta jumlah formasi yang tersedia pada setiap periode rekrutmen. Sementara itu, lulusan Akuntansi dapat bekerja di perusahaan, lembaga keuangan, pemerintahan, maupun berbagai organisasi yang membutuhkan pengelolaan keuangan. Namun, banyaknya lulusan setiap tahun juga membuat persaingan untuk memperoleh pekerjaan menjadi cukup ketat. Kelima bidang studi tersebut memiliki karakteristik yang berbeda, tetapi sama-sama menunjukkan bahwa jumlah lulusan dan kebutuhan pasar kerja harus berjalan lebih seimbang.
Hal yang perlu diperhatikan adalah data tersebut tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa Manajemen, Hukum, Ekonomi, Pendidikan, atau Akuntansi merupakan jurusan dengan prospek kerja paling buruk. Angka yang ditampilkan merupakan proporsi bidang studi di antara kelompok pengangguran lulusan minimal S1, bukan tingkat pengangguran dari seluruh lulusan pada masing-masing jurusan. Bidang studi dengan jumlah mahasiswa dan lulusan yang sangat besar secara alami berpotensi menghasilkan jumlah penganggur yang lebih besar dibandingkan program studi yang memiliki jumlah lulusan lebih sedikit. Untuk mengetahui risiko pengangguran secara lebih tepat, jumlah penganggur harus dibandingkan dengan keseluruhan angkatan kerja yang memiliki latar belakang pendidikan yang sama. Perbedaan cara membaca data tersebut menjadi penting agar informasi mengenai jurusan dengan pengangguran terbanyak tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru di kalangan calon mahasiswa.
Menariknya, lulusan bidang Ilmu Komputer atau Informatika juga tercatat menyumbang sekitar 4,6 persen dari pengangguran berpendidikan minimal S1. Angka tersebut menjadi perhatian karena bidang teknologi selama ini sering dianggap memiliki prospek kerja yang kuat seiring berkembangnya digitalisasi dan kebutuhan perusahaan terhadap tenaga teknologi. Namun, perubahan teknologi yang berlangsung cepat membuat kebutuhan industri terhadap kompetensi tertentu juga ikut berubah. Gelar pendidikan saja tidak selalu cukup apabila tidak disertai kemampuan praktis, pengalaman, penguasaan teknologi yang relevan, serta kemampuan beradaptasi dengan kebutuhan industri. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa bahkan bidang yang dianggap memiliki prospek tinggi tetap membutuhkan kesiapan kompetensi agar lulusan dapat bersaing di pasar kerja.
Tantangan lulusan perguruan tinggi ternyata bukan hanya berkaitan dengan pengangguran, tetapi juga kesesuaian antara pendidikan dan pekerjaan yang diperoleh. Laporan LPEM FEB UI turut menyoroti fenomena overeducated, yakni ketika seseorang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi dibandingkan kualifikasi yang sebenarnya dibutuhkan oleh pekerjaannya. Sekitar 8 juta lulusan sarjana disebut bekerja pada posisi yang membutuhkan tingkat pendidikan lebih rendah dibandingkan pendidikan yang mereka miliki. Kondisi tersebut menggambarkan adanya persoalan lain dalam pasar kerja Indonesia, yaitu ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dan jenis pekerjaan yang tersedia. Dengan demikian, peningkatan akses pendidikan tinggi perlu diikuti dengan strategi yang memastikan lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Persoalan tersebut menjadi tantangan bagi perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia usaha untuk memperkuat hubungan antara pendidikan dan kebutuhan pasar kerja. Perguruan tinggi perlu memastikan kurikulum tidak hanya memberikan pengetahuan teoritis, tetapi juga membangun keterampilan praktis yang relevan dengan perkembangan industri. Program magang, kerja sama dengan perusahaan, sertifikasi kompetensi, pelatihan teknologi, serta pengembangan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah dapat membantu meningkatkan kesiapan mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja. Di sisi lain, pemerintah perlu memiliki pemetaan kebutuhan tenaga kerja yang lebih baik sehingga perkembangan program studi di perguruan tinggi dapat mempertimbangkan dinamika pasar. Dunia usaha juga memiliki peran dalam memberikan gambaran mengenai keterampilan yang benar-benar dibutuhkan sehingga terdapat hubungan yang lebih erat antara proses pendidikan dan kebutuhan industri.
Data mengenai jurusan dengan proporsi pengangguran terbesar tersebut pada akhirnya tidak seharusnya membuat calon mahasiswa menghindari bidang studi tertentu secara otomatis. Pemilihan jurusan tetap perlu mempertimbangkan minat, kemampuan, kualitas perguruan tinggi, perkembangan industri, peluang karier, serta kemampuan mahasiswa mengembangkan kompetensi tambahan. Manajemen, Hukum, Ekonomi, Pendidikan, dan Akuntansi tetap memiliki bidang pekerjaan yang luas, tetapi persaingan di dalamnya membutuhkan kesiapan yang semakin tinggi. Di tengah perubahan dunia kerja akibat digitalisasi, otomatisasi, dan perkembangan teknologi, kemampuan untuk terus belajar menjadi faktor yang semakin penting. Dengan memahami data secara tepat, calon mahasiswa dapat melihat bahwa tantangan utama bukan sekadar memilih jurusan yang dianggap aman dari pengangguran, melainkan mempersiapkan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja setelah lulus.