Jakarta, 6 September 2026 – Mantan atlet judo nasional Indonesia Sadik Algadri mengungkap kegelisahan terhadap kondisi olahraga Tanah Air yang kemudian dituangkannya dalam buku berjudul Membangun Otot di Negeri Kertas. Buku tersebut dibedah dalam sebuah forum diskusi di Gedung Serbaguna Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Sabtu, 5 September 2026, dengan menghadirkan sejumlah tokoh dari latar belakang olahraga, akademik, dan jurnalistik. Sadik mengatakan proses penulisan buku berlangsung sekitar lima hingga enam bulan dan melibatkan sejumlah pihak yang memiliki perhatian terhadap perkembangan olahraga nasional. Karya tersebut tidak hanya membicarakan prestasi atlet di arena pertandingan, tetapi juga mengulas persoalan tata kelola, kebijakan, pembinaan, anggaran, hingga posisi olahraga sebagai bagian dari pembangunan bangsa. Bagi Sadik, berbagai persoalan yang selama ini muncul tidak dapat diselesaikan hanya melalui target medali atau keberhasilan dalam satu kompetisi. Ia memandang olahraga Indonesia membutuhkan sistem yang kuat dan berkelanjutan agar potensi besar yang dimiliki dapat menghasilkan prestasi secara konsisten.
Kegelisahan Sadik salah satunya muncul ketika melihat kebijakan yang menurut penilaiannya berpotensi memengaruhi tata kelola olahraga prestasi dan bersinggungan dengan prinsip dalam Olympic Charter atau Piagam Olimpiade. Ia menekankan bahwa olahraga prestasi memiliki prinsip serta tata kelola internasional yang harus diperhatikan, termasuk berkaitan dengan independensi organisasi olahraga dari intervensi yang tidak sesuai ketentuan. Sadik tidak menyebut secara spesifik aturan yang menjadi salah satu pemicu kegelisahannya tersebut, tetapi memilih menyoroti persoalan yang lebih luas mengenai pentingnya pemangku kebijakan memahami karakter dunia olahraga. Menurutnya, olahraga tidak bisa dipandang semata-mata sebagai aktivitas pertandingan atau hiburan masyarakat. Kebijakan yang dibuat perlu mempertimbangkan sistem olahraga internasional sekaligus kebutuhan pembinaan atlet di dalam negeri. Pandangan tersebut kemudian menjadi salah satu gagasan yang dikembangkan lebih jauh melalui buku yang ditulisnya.
Sebelum memutuskan menulis buku, Sadik sempat mempertimbangkan sejumlah cara untuk menyampaikan pandangan kritis mengenai olahraga Indonesia. Salah satu medium yang sempat dicobanya adalah siniar, tetapi ia kemudian memilih buku karena dinilai memberikan ruang lebih luas untuk menguraikan persoalan secara sistematis dan mendalam. Proses penyusunannya juga didukung rekan-rekan yang memiliki pengalaman akademik dan memahami metodologi penulisan, termasuk wartawan senior olahraga Suryansyah. Sadik menegaskan bahwa kritik yang disampaikan bukan sekadar ekspresi kemarahan terhadap keadaan olahraga nasional, melainkan lahir setelah melalui diskusi dan komunikasi dengan berbagai pihak yang berkecimpung di lingkungan olahraga. Pengalamannya sebagai mantan atlet sekaligus keterlibatannya dalam dunia olahraga memberikan perspektif mengenai persoalan yang dihadapi atlet maupun organisasi. Dari proses tersebut, buku kemudian menjadi sarana untuk merangkum kegelisahan sekaligus menawarkan pemikiran mengenai arah pembenahan yang dinilai diperlukan.
Judul Membangun Otot di Negeri Kertas sendiri membawa metafora mengenai kondisi pembangunan olahraga Indonesia. Istilah “otot” menggambarkan kekuatan nyata yang dibutuhkan untuk menciptakan prestasi, mulai dari atlet berkualitas, pelatih kompeten, kompetisi yang sehat, fasilitas memadai, penerapan sport science, pendanaan, hingga tata kelola profesional. Sementara itu, gambaran “negeri kertas” merefleksikan kritik terhadap kondisi ketika berbagai konsep, regulasi, program, serta rencana telah tersedia, tetapi implementasinya belum selalu menghasilkan perubahan sebagaimana yang diharapkan. Sadik berpandangan bahwa prestasi internasional tidak mungkin hanya dibebankan kepada kemampuan individu atlet. Seorang atlet membutuhkan ekosistem yang mendukung perjalanan panjang mulai dari identifikasi bakat, pembinaan usia dini, kompetisi berjenjang, pendampingan ilmiah, sampai persiapan menghadapi pertandingan internasional. Karena itu, penguatan sistem menjadi salah satu gagasan utama yang disampaikan melalui buku tersebut.
Dalam diskusi buku tersebut, Sadik juga mengangkat Asian Games 2018 sebagai salah satu momentum untuk melihat posisi olahraga dalam pembangunan sebuah negara. Ia membandingkannya dengan pengalaman sejumlah negara yang menggunakan penyelenggaraan kompetisi internasional sebagai momentum untuk menunjukkan kemajuan dan kebangkitan kepada dunia. Jepang, misalnya, menjadikan Olimpiade Tokyo 1964 sebagai salah satu panggung penting setelah melalui periode pemulihan pascaperang, sementara negara Asia lainnya juga memanfaatkan ajang olahraga besar sebagai bagian dari transformasi nasional. Sadik berharap penyelenggaraan Asian Games 2018 dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap ekosistem olahraga Indonesia, bukan hanya meninggalkan keberhasilan penyelenggaraan dan pencapaian prestasi pada saat kompetisi berlangsung. Menurut pandangannya, momentum besar semestinya diteruskan melalui pembinaan yang konsisten, penguatan fasilitas, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta kebijakan jangka panjang. Tanpa keberlanjutan tersebut, prestasi berisiko kembali bergantung pada momentum tertentu.
Persoalan anggaran menjadi bagian lain yang mendapat perhatian Sadik karena pembinaan olahraga prestasi membutuhkan perencanaan jangka panjang dan dukungan pembiayaan yang konsisten. Ia menilai olahraga masih kerap ditempatkan sebagai hiburan, padahal sektor tersebut dapat berfungsi lebih luas dalam meningkatkan martabat bangsa, membentuk sumber daya manusia, dan memperkuat identitas nasional. Dukungan finansial juga tidak cukup hanya diarahkan kepada penyelenggaraan kompetisi besar, tetapi harus menyentuh fondasi pembinaan seperti peningkatan kualitas pelatih, fasilitas latihan, sport science, kompetisi usia dini, dan kesejahteraan atlet. Ketika pembiayaan tidak memiliki kesinambungan, program pembinaan berpotensi mengalami perubahan setiap kali terdapat pergantian kebijakan atau prioritas. Kondisi seperti itu dapat menyulitkan cabang olahraga dalam menyusun target prestasi untuk periode panjang. Oleh karena itu, Sadik mendorong agar olahraga ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembangunan dan tidak sekadar dinilai berdasarkan hasil kompetisi dalam jangka pendek.
Sadik juga menyinggung perkembangan sejumlah negara Asia Tenggara yang dinilai semakin kompetitif dalam olahraga internasional. Thailand, Vietnam, dan Malaysia menjadi beberapa negara yang disebut dalam pembahasannya ketika membandingkan perkembangan ekosistem olahraga di kawasan. Persaingan tersebut menurutnya perlu menjadi bahan evaluasi bagi Indonesia yang memiliki jumlah penduduk besar, keragaman cabang olahraga, serta potensi atlet dari berbagai daerah. Keunggulan jumlah talenta tidak secara otomatis menghasilkan prestasi apabila tidak didukung sistem identifikasi, pembinaan, kompetisi, pelatih, dan fasilitas yang memadai. Indonesia karena itu perlu melihat perkembangan negara lain bukan sekadar sebagai persaingan perolehan medali, tetapi sebagai bahan untuk mengevaluasi efektivitas sistem yang telah dibangun. Evaluasi tersebut dinilai penting agar persoalan yang selama bertahun-tahun muncul dapat diidentifikasi dan diperbaiki secara lebih terarah.
Bedah buku Membangun Otot di Negeri Kertas turut menghadirkan akademisi Rocky Gerung, wartawan senior olahraga Asro Kamal Rokan, serta Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Yunyun Yudiana. Kehadiran tokoh dengan latar belakang berbeda membuka pembahasan olahraga dari sejumlah perspektif, mulai dari kebijakan, jurnalistik, pendidikan, pembinaan atlet, hingga penerapan ilmu keolahragaan. Perspektif tersebut menjadi penting karena pembangunan olahraga tidak dapat dilakukan oleh satu institusi atau kelompok secara terpisah. Pemerintah, organisasi olahraga, akademisi, pelatih, atlet, dunia usaha, media, dan masyarakat memiliki peran yang saling berkaitan dalam membentuk ekosistem prestasi. Kolaborasi antarpihak juga diperlukan agar kebijakan yang dirancang dapat diterjemahkan menjadi program yang berjalan efektif di lapangan. Dengan demikian, pembenahan olahraga tidak berhenti pada perubahan regulasi, tetapi harus menghasilkan perbaikan yang dapat dirasakan langsung dalam proses pembinaan.
Melalui buku tersebut, Sadik berharap kritik terhadap kondisi olahraga nasional tidak berhenti menjadi diskusi tanpa tindak lanjut. Ia mendorong keberanian para pemangku kepentingan untuk terlebih dahulu mengakui persoalan yang masih terjadi sebelum melakukan perbaikan secara menyeluruh. Menurutnya, perubahan membutuhkan pemikiran yang jernih sekaligus keberanian mengevaluasi kebijakan dan sistem yang selama ini belum memberikan hasil optimal. Tujuan akhirnya adalah membangun ekosistem yang memungkinkan atlet Indonesia bersaing sejajar dengan atlet terbaik dunia secara konsisten, bukan hanya mencatat keberhasilan pada momentum tertentu. Buku Membangun Otot di Negeri Kertas dengan demikian menjadi catatan kritis sekaligus tawaran pemikiran mengenai perlunya memperkuat fondasi olahraga nasional dari pembinaan hingga tata kelola. Kegelisahan yang dituangkan Sadik diharapkan dapat membuka ruang dialog lebih luas mengenai langkah konkret yang diperlukan agar potensi olahraga Indonesia dapat berkembang menjadi kekuatan prestasi yang berkelanjutan.