Jakarta, 5 September 2026 – Aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali meningkat dengan erupsi menerus yang menampilkan semburan lava merah menyala, disertai suara dentuman dan gemuruh yang terdengar hingga kawasan pesisir. Erupsi berlangsung sejak Jumat, 4 September 2026 sekitar pukul 23.07 WIB dan masih berlanjut dalam periode pengamatan hingga Sabtu pagi. Fenomena yang terlihat pada malam hari diinterpretasikan sebagai lava fountain atau lava air mancur dengan karakter erupsi Strombolian. Aktivitas tersebut membuat sebagian masyarakat di pesisir Banten dan Lampung sempat panik karena merasakan getaran pada rumah mereka. Kekhawatiran semakin kuat karena sebagian warga masih menyimpan ingatan terhadap tsunami Selat Sunda pada Desember 2018 yang berkaitan dengan aktivitas Anak Krakatau.
Penampakan erupsi pada malam hari terlihat cukup mencolok karena semburan material pijar berwarna merah dapat diamati dari kejauhan. Aktivitas vulkanik berlangsung selama beberapa jam dan menghasilkan lontaran material dari kawasan kawah aktif. Selain lava pijar, erupsi juga menghasilkan abu vulkanik serta suara gemuruh yang terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Pasauran. Dalam pengamatan periode pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, gunung terlihat jelas hingga sesekali tertutup kabut. Aktivitas tersebut tercatat sebagai salah satu episode erupsi dengan intensitas paling tinggi yang dialami Anak Krakatau sepanjang 2026.
Dampak erupsi turut dirasakan masyarakat yang berada di kawasan pesisir Banten. Sejumlah warga melaporkan pintu dan jendela rumah mereka bergetar ketika suara dentuman muncul dari arah Selat Sunda. Getaran mulai dirasakan beberapa kali sejak sekitar pukul 01.00 WIB dan kembali dilaporkan cukup kuat pada pagi hari. Warga di kawasan Carita dan sekitarnya mengaku awalnya mengira getaran tersebut hanya terjadi pada rumah masing-masing. Namun, setelah berkomunikasi dengan tetangga, mereka mengetahui fenomena serupa juga dirasakan oleh warga lainnya.
Situasi tersebut membuat sebagian warga merasa cemas karena pengalaman tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 masih membekas. Ketika itu, runtuhan sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau memicu tsunami yang menerjang kawasan pesisir Banten dan Lampung serta menimbulkan banyak korban. Karena latar belakang tersebut, suara dentuman dan getaran yang muncul pada erupsi kali ini dengan cepat menimbulkan kekhawatiran mengenai kemungkinan terjadinya gelombang tsunami. Aparat dan petugas kebencanaan kemudian berupaya memberikan informasi kepada masyarakat agar tidak mengambil kesimpulan berdasarkan suara maupun getaran yang dirasakan. Warga diminta tetap waspada tetapi tidak panik dan hanya mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas gunung.
Badan Geologi menjelaskan kondisi Anak Krakatau saat ini berbeda dibandingkan ketika peristiwa 2018 terjadi. Berdasarkan evaluasi terkini, tubuh Gunung Anak Krakatau yang kembali tumbuh setelah keruntuhan besar pada 2018 masih relatif kecil. Kondisi tersebut dinilai belum memiliki potensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami besar seperti peristiwa sebelumnya. Meski demikian, pemantauan terhadap perubahan bentuk tubuh gunung dan aktivitas vulkaniknya tetap dilakukan secara intensif. Pemerintah juga meminta masyarakat tidak menyebarkan informasi mengenai potensi tsunami yang belum mendapatkan konfirmasi dari lembaga berwenang.
Kepanikan akibat erupsi tidak hanya dialami warga di daratan. Sebanyak 13 orang dari sebuah komunitas kantor yang sedang memancing di perairan sekitar Anak Krakatau juga menyaksikan langsung peningkatan aktivitas gunung pada Jumat malam. Mereka mulai melihat asap dan gumpalan lava sekitar pukul 23.15 WIB sebelum aktivitas semakin intens sekitar pukul 23.30 WIB. Kapten kapal kemudian mengambil alih kemudi dan memutuskan segera meninggalkan kawasan tersebut sekitar pukul 23.45 WIB. Rombongan yang didampingi lima anak buah kapal berpengalaman akhirnya bergerak menuju daratan dengan perjalanan sekitar empat hingga lima jam.
Para pemancing tersebut mengaku sempat panik ketika menyaksikan aktivitas vulkanik dari tengah laut, terlebih kondisi angin ketika itu cukup kencang. Namun, keberadaan awak kapal yang berpengalaman membantu menjaga situasi tetap terkendali dan seluruh anggota rombongan mengikuti instruksi untuk menjauh. Mereka terus bergerak meninggalkan kawasan Anak Krakatau hingga akhirnya mencapai daratan dengan selamat. Peristiwa tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya mematuhi pembatasan aktivitas di sekitar gunung, khususnya ketika tingkat aktivitas berada pada kategori tinggi. Masyarakat juga diminta tidak sengaja mendekati kawasan hanya untuk menyaksikan erupsi atau mengambil foto dan video.
Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, pendaki, nelayan maupun pengunjung dilarang mendekati gunung dan melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif. Pembatasan diberlakukan karena erupsi Strombolian dapat menghasilkan lontaran batu pijar maupun material vulkanik yang berbahaya bagi siapa pun yang berada terlalu dekat. Bahkan perangkat pemantauan di kawasan gunung dilaporkan sempat terdampak lontaran material selama aktivitas erupsi berlangsung. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa bahaya utama saat ini tetap terkonsentrasi di sekitar tubuh gunung dan kawasan yang telah ditetapkan sebagai zona terlarang.
Pemantauan kegempaan juga memperlihatkan aktivitas vulkanik masih berlangsung. Dalam laporan periode Sabtu dini hari hingga pagi, tercatat satu kejadian letusan dengan amplitudo maksimum mencapai 70 milimeter dan durasi yang sangat panjang karena berkaitan dengan erupsi menerus. Suara gemuruh yang menyertai aktivitas tersebut dapat terdengar dari pos pengamatan yang berada di daratan. Petugas terus mengikuti perkembangan parameter kegempaan, visual, serta perubahan aktivitas permukaan untuk menentukan kemungkinan perkembangan berikutnya. Tingkat aktivitas maupun rekomendasi keselamatan dapat kembali dievaluasi apabila terjadi perubahan signifikan pada kondisi gunung.
Pemerintah meminta masyarakat pesisir Banten dan Lampung mempertahankan kewaspadaan tanpa terjebak kepanikan akibat informasi yang tidak terverifikasi. Dentuman, getaran, serta penampakan lava merah memang menunjukkan Anak Krakatau sedang mengalami aktivitas erupsi yang kuat, tetapi kondisi tersebut tidak secara otomatis berarti tsunami akan terjadi. Pengalaman bencana 2018 membuat kekhawatiran masyarakat dapat dipahami, sehingga penyampaian informasi yang cepat dan akurat menjadi penting selama aktivitas gunung berlangsung. Untuk sementara, larangan memasuki radius tiga kilometer tetap harus dipatuhi dan pemantauan Anak Krakatau terus dilakukan secara intensif. Perkembangan aktivitas dalam beberapa waktu ke depan akan menjadi dasar untuk menentukan apakah status Level III atau Siaga tetap dipertahankan atau memerlukan evaluasi lebih lanjut.