Jakarta, 29 Agustus 2026 – Ukuran lingkar perut ternyata bukan sekadar persoalan penampilan. Lingkar pinggang dapat menjadi salah satu indikator untuk melihat penumpukan lemak di area perut dan membantu memperkirakan risiko gangguan kesehatan. Dokter spesialis gizi klinik menyebut batas yang perlu diperhatikan adalah 80 cm untuk perempuan dan 90 cm untuk laki-laki.
Jika ukuran tersebut terlampaui, seseorang dapat masuk dalam kategori obesitas sentral. Kondisi ini menunjukkan adanya penumpukan lemak berlebih di bagian perut, termasuk lemak visceral yang berada di sekitar organ-organ dalam. Lemak jenis ini perlu diwaspadai karena berkaitan dengan berbagai gangguan metabolik.
Batasnya Berbeda antara Pria dan Wanita
Menurut acuan yang digunakan di Indonesia, lingkar pinggang normal adalah kurang dari 90 cm pada laki-laki dan kurang dari 80 cm pada perempuan. Kementerian Kesehatan juga menggunakan angka tersebut sebagai batas obesitas sentral pada penduduk dewasa.
Dengan demikian, ukuran di atas 90 cm pada laki-laki atau di atas 80 cm pada perempuan perlu menjadi perhatian. Angka tersebut bukan berarti seseorang pasti menderita penyakit, tetapi menunjukkan adanya peningkatan risiko yang sebaiknya ditindaklanjuti dengan evaluasi kesehatan.
Bukan Sekadar Soal Perut Buncit
Lingkar pinggang berkaitan dengan distribusi lemak tubuh. Seseorang bahkan dapat memiliki berat badan atau indeks massa tubuh yang terlihat normal, tetapi menyimpan lemak berlebih di sekitar perut.
Kondisi seperti ini sering disebut skinny fat. Karena itu, menilai kesehatan hanya berdasarkan berat badan tidak selalu cukup. Pengukuran lingkar pinggang dapat memberikan gambaran tambahan mengenai keberadaan lemak abdominal.
Lemak Visceral Perlu Diwaspadai
Lemak yang berada tepat di bawah kulit disebut lemak subkutan. Sementara itu, lemak visceral berada lebih dalam dan mengelilingi organ-organ di rongga perut.
Penumpukan lemak visceral berlebihan dikaitkan dengan gangguan metabolisme, termasuk resistensi insulin. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 serta berbagai penyakit tidak menular lainnya.
Karena itu, ukuran lingkar pinggang dapat menjadi salah satu tanda awal yang membantu seseorang lebih waspada terhadap kondisi kesehatan sebelum muncul keluhan.
Cara Mengukurnya Harus Tepat
Pengukuran lingkar pinggang sebaiknya dilakukan menggunakan pita ukur secara horizontal. Menurut pedoman Kemenkes, pengukuran dilakukan saat ekspirasi dan pada titik tengah antara tulang iga paling bawah dengan tonjolan tulang panggul bagian atas.
Pita ukur tidak boleh terlalu kencang hingga menekan kulit, tetapi juga jangan terlalu longgar. Tubuh sebaiknya berada dalam posisi tegak dan pengukuran dilakukan secara konsisten agar hasil dapat dibandingkan dari waktu ke waktu.
Jangan Hanya Mengandalkan Timbangan
Berat badan yang terlihat normal bukan jaminan seseorang terbebas dari risiko akibat lemak perut. Sebaliknya, ukuran lingkar pinggang yang melewati batas tidak secara otomatis berarti seseorang pasti memiliki penyakit tertentu.
Dokter biasanya akan melihat kondisi secara lebih menyeluruh, termasuk indeks massa tubuh, tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, pola makan, aktivitas fisik, serta faktor risiko lainnya.
Kapan Harus Mulai Waspada?
Jika hasil pengukuran menunjukkan lingkar pinggang melebihi 80 cm pada perempuan atau 90 cm pada laki-laki, kondisi tersebut sebaiknya menjadi alasan untuk mulai mengevaluasi pola hidup dan melakukan pemeriksaan kesehatan bila diperlukan.
Kementerian Kesehatan juga menganjurkan masyarakat memperhatikan pemeriksaan seperti tekanan darah, gula darah, kolesterol, serta lingkar perut secara berkala. Deteksi lebih awal dapat membantu mengendalikan faktor risiko sebelum berkembang menjadi penyakit.
Menjaga Lingkar Pinggang Tetap Sehat
Menjaga ukuran lingkar pinggang tidak dilakukan dengan cara instan. Pola makan seimbang, aktivitas fisik rutin, tidur yang cukup, dan pengelolaan berat badan merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan metabolik.
Jika ukuran lingkar pinggang terus meningkat, seseorang dapat berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan untuk mengetahui penyebabnya dan menentukan langkah yang sesuai.
Jadi, angka 80 cm untuk perempuan dan 90 cm untuk laki-laki memang menjadi batas penting yang perlu diperhatikan dalam pengukuran lingkar pinggang di Indonesia. Ukuran yang melewati batas tersebut berkaitan dengan obesitas sentral dan peningkatan risiko gangguan metabolik. Namun, hasil pengukuran sebaiknya tidak digunakan sendirian untuk menentukan kondisi kesehatan, melainkan dipadukan dengan pemeriksaan lainnya.