Jakarta, 9 September 2026 – Aktor Arya Saloka mendapatkan sejumlah pengalaman baru selama terlibat dalam proyek film Empat Musim Pertiwi. Proses produksi membawanya mengunjungi kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, sekaligus memberikan kesempatan untuk mempelajari keterampilan berkuda yang dibutuhkan dalam cerita. Bagi Arya, pengalaman tersebut membuat keterlibatannya dalam film tidak hanya berkaitan dengan proses membangun karakter di depan kamera. Ia juga harus beradaptasi dengan lingkungan pengambilan gambar dan aktivitas yang sebelumnya tidak menjadi bagian dari kesehariannya. Berbagai pengalaman itu kemudian menjadi salah satu hal yang paling berkesan selama menjalani produksi.
Kunjungan ke Bromo menjadi pengalaman tersendiri bagi Arya karena sebelumnya ia belum pernah mendatangi kawasan wisata tersebut. Kesempatan itu akhirnya datang melalui pekerjaan ketika beberapa bagian produksi Empat Musim Pertiwi dilakukan dengan memanfaatkan lanskap alam di kawasan Bromo. Suasana pegunungan, udara dingin, hamparan pasir, dan karakter geografis kawasan tersebut memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan proses syuting di studio maupun wilayah perkotaan. Arya pun menikmati kesempatan untuk mengenal salah satu destinasi alam terkenal di Indonesia tersebut. Pekerjaan yang dijalaninya sekaligus menjadi perjalanan pertama untuk melihat Bromo secara langsung.
Namun, berada di lokasi dengan karakter alam terbuka juga memberikan tantangan tersendiri. Kondisi cuaca di kawasan pegunungan dapat berubah dengan cepat sehingga pemain dan kru harus mampu menyesuaikan diri. Suhu yang lebih rendah, angin, medan berpasir, hingga perpindahan dari satu titik pengambilan gambar ke lokasi lainnya menjadi bagian dari proses produksi. Situasi tersebut membuat persiapan tidak hanya berkaitan dengan dialog dan akting, tetapi juga ketahanan fisik. Para pemain perlu mempertahankan konsentrasi meskipun harus bekerja dalam kondisi lingkungan yang berbeda dari keseharian.
Selain berkunjung ke Bromo, pengalaman penting lainnya bagi Arya adalah belajar berkuda. Keterampilan tersebut diperlukan untuk mendukung adegan yang melibatkan karakter yang diperankannya. Sebelum menjalani pengambilan gambar, ia perlu berlatih agar dapat berinteraksi dengan kuda secara lebih nyaman dan aman. Berkuda membutuhkan kemampuan menjaga keseimbangan, memahami gerakan hewan, serta memberikan respons yang tepat ketika kuda bergerak. Latihan menjadi penting agar adegan dapat terlihat alami sekaligus meminimalkan risiko bagi pemain maupun hewan selama produksi berlangsung.
Bagi seorang aktor, mempelajari kemampuan baru merupakan bagian dari proses mendalami karakter. Adegan yang tampak sederhana ketika ditonton sering kali membutuhkan persiapan panjang di belakang kamera. Berkuda, misalnya, tidak cukup dilakukan dengan hanya duduk di atas pelana karena pemain harus memahami posisi tubuh dan ritme pergerakan kuda. Ketika kamera mulai merekam, aktor tetap harus mempertahankan ekspresi dan menjalankan adegan sambil mengendalikan tubuhnya. Pengalaman tersebut memberikan tantangan baru bagi Arya dalam mengembangkan kemampuan aktingnya.
Arya melihat proses tersebut sebagai kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan yang sebelumnya belum dimiliki. Dunia perfilman membuat seorang aktor dapat bersentuhan dengan berbagai profesi, budaya, keterampilan, dan lokasi yang berbeda melalui karakter yang dimainkan. Setiap proyek dapat memberikan pengalaman baru yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan karier. Hal tersebut pula yang dirasakannya selama mengerjakan Empat Musim Pertiwi. Dari perjalanan menuju Bromo sampai latihan berkuda, terdapat pengalaman yang kemungkinan tidak akan diperolehnya apabila tidak terlibat dalam produksi tersebut.
Pengambilan gambar dengan latar alam juga mempunyai peranan penting dalam membangun atmosfer sebuah film. Bromo memiliki karakter visual yang kuat melalui pegunungan, hamparan pasir, kabut, dan perubahan cahaya alami. Kondisi tersebut dapat memberikan dimensi berbeda terhadap cerita dibandingkan apabila seluruh adegan dibuat menggunakan set buatan. Pada saat bersamaan, penggunaan lokasi nyata membuat pemain harus menyesuaikan akting dengan kondisi yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan. Faktor cuaca dan lingkungan menjadi bagian yang ikut menentukan jalannya produksi.
Keterlibatan Arya Saloka dalam Empat Musim Pertiwi turut menjadi perhatian karena namanya selama beberapa tahun terakhir dikenal luas melalui berbagai produksi televisi dan film. Setiap proyek baru memberikan kesempatan baginya untuk memperlihatkan karakter yang berbeda dari peran-peran sebelumnya. Pemilihan proyek dengan kebutuhan lokasi dan aktivitas khusus juga menuntut kesiapan yang lebih besar. Ia tidak hanya perlu memahami karakter melalui naskah, tetapi juga mempelajari berbagai aktivitas yang menjadi bagian dari kehidupan tokoh tersebut. Pendekatan semacam itu membantu pemain menciptakan penampilan yang lebih meyakinkan di depan kamera.
Latihan berkuda menjadi salah satu contoh bagaimana kebutuhan cerita dapat memengaruhi persiapan seorang pemain. Interaksi dengan hewan membutuhkan pendekatan berbeda dibandingkan berakting bersama pemain lain karena gerakan kuda tidak selalu dapat diprediksi sepenuhnya. Aktor harus membangun rasa percaya diri sekaligus tetap mengikuti arahan pelatih dan tim produksi. Keselamatan menjadi prioritas sehingga setiap tahapan latihan perlu dilakukan secara bertahap. Setelah mulai terbiasa, pemain dapat lebih berkonsentrasi pada kebutuhan karakter tanpa terlalu terganggu oleh aspek teknis berkuda.
Arya juga mendapatkan kesempatan menikmati sisi lain pekerjaannya melalui perjalanan ke berbagai daerah. Lokasi syuting sering membawa pemain keluar dari rutinitas dan mempertemukan mereka dengan lingkungan baru. Bromo menjadi salah satu lokasi yang memberikan kesan kuat karena merupakan kunjungan pertamanya ke kawasan tersebut. Pengalaman bekerja sekaligus menjelajahi tempat baru menjadi bagian yang menurutnya menarik dari profesi sebagai aktor. Meski jadwal produksi dapat berlangsung padat, kesempatan seperti itu memberikan cerita tersendiri di luar hasil akhir yang nantinya terlihat di layar.
Pengalaman selama produksi Empat Musim Pertiwi menunjukkan bahwa proses pembuatan film tidak hanya berlangsung ketika kamera mulai merekam. Persiapan karakter, latihan kemampuan khusus, adaptasi lokasi, hingga menjaga kondisi fisik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pekerjaan pemain. Bagi Arya, belajar berkuda menjadi keterampilan tambahan yang diperoleh karena kebutuhan karakter, sementara perjalanan ke Bromo memberikan pengalaman pribadi yang baru. Kedua hal tersebut membuat proyek ini mempunyai kesan tersendiri dibandingkan pekerjaan yang pernah dijalaninya sebelumnya. Pengalaman di balik layar tersebut juga memperlihatkan besarnya proses yang dibutuhkan untuk menghadirkan sebuah cerita secara meyakinkan.
Melalui Empat Musim Pertiwi, Arya Saloka pada akhirnya tidak hanya mendapatkan kesempatan memerankan karakter baru, tetapi juga memperluas pengalaman di luar dunia akting yang biasa dijalaninya. Kunjungan pertamanya ke Bromo dan proses belajar berkuda menjadi dua pengalaman yang paling menonjol selama produksi. Berbagai tantangan tersebut diterimanya sebagai bagian dari proses profesional seorang aktor dalam memenuhi kebutuhan cerita. Ia harus belajar, beradaptasi, dan mencoba hal yang sebelumnya belum pernah dilakukan agar karakter dapat tampil lebih natural. Bagi Arya, pengalaman baru itulah yang menjadi salah satu daya tarik ketika menerima dan menjalani sebuah proyek film.